Menjelang hari-hari bahagiamu
kau tak pernah tau aku bersedih
kau lupakan semua kenangan lalu
lalu kau campakkan begitu saja
tegaaaa….
Sepotong bait lagu dari Rossa yang judulnya Tega. Bercerita tentang seorang yang akan ditinggal menikah dengan orang lain oleh pacarnya. Jangankan menjalani, saya yakin anda menghayati lagu ini saja pasti merasa sakit sebagai seorang perempuan , lalu bagaimana dengan yang menjalani? Bukan lagi sakit, tapi hancur. Benar-benar hancur saya pikir. Kenapa saya tau? Saya sedang menjalani ini. Ini masa-masa tersulit di hidup saya.
Yah, siapa yang tidak sakit ketika orang yang anda sayang selama bertahun-tahun ini, dan orang yang membuat anda menutup hati untuk pria manapun dalam kurun waktu setahun ini ternyata lebih memilih wanita lain. Bukan hanya itu, bahkan selama anda menunggu , dia hanya memberikan sinyal- sinyal sumbang tanpa pernah menyampaikan apa yang dia rasakan, anda hanya mengira-ngira bahwa dia suka. Dan setelah anda tahu dia akan menikah , anda sudah meyakini bahwa selama ini dia tidak suka kepada anda, dan bahkan dia hanya memberikan anda harapan palsu.
Tapi begitu hari pernikahannya kurang dari sebulan, anda dikejutkan dengan sebuah pengakuannya. Pengakuan yang mungkin saja menurut dia , dia hanya ingin menyelesaikan urusannya. Tapi tidak begitu mudahnya menurut anda, meski anda bilang di depannya berkali-kali “aku ikhlas“. Karena pengakuannya justru membuat anda lebih sakit, lebih terpuruk, lebih membuat anda menyalahkan diri anda sendiri.
Pengakuannya bahkan hanya kata-kata yang sederhana, hanya “Tapi jujur, aku pernah benar-benar menunggu kamu, sebelum akhirnya memilih calon istriku ini .. ” . Ketika anda mendengar itu, rasanya sepeti disambar petir,, CETARRR!! Seketika air mata saya turun, kemudian dengan saking tidak mau terlihat rapuh saya balas dengan kata “ berjalanlah ke depan, jangan lagi kau menoleh ke belakang”. Anda tahu? Saya benar-benar tidak ingin melempar kata-kata itu, benar-benar tidak ingin. Yang saya inginkan hanya mengatakan, “tak bisakah anda batalkan pernikahan itu ? tak bisakah anda memilih saya kemudian? “ . Tapi saya tak bisa melontarkan kata-kata itu, saya tak ingin terlihat bahwa saya begitu rapuh mendengar pengakuannya. Sakit , benar-benar sakit.
kau tak pernah tau aku bersedih
kau lupakan semua kenangan lalu
lalu kau campakkan begitu saja
tegaaaa….
Sepotong bait lagu dari Rossa yang judulnya Tega. Bercerita tentang seorang yang akan ditinggal menikah dengan orang lain oleh pacarnya. Jangankan menjalani, saya yakin anda menghayati lagu ini saja pasti merasa sakit sebagai seorang perempuan , lalu bagaimana dengan yang menjalani? Bukan lagi sakit, tapi hancur. Benar-benar hancur saya pikir. Kenapa saya tau? Saya sedang menjalani ini. Ini masa-masa tersulit di hidup saya.
Yah, siapa yang tidak sakit ketika orang yang anda sayang selama bertahun-tahun ini, dan orang yang membuat anda menutup hati untuk pria manapun dalam kurun waktu setahun ini ternyata lebih memilih wanita lain. Bukan hanya itu, bahkan selama anda menunggu , dia hanya memberikan sinyal- sinyal sumbang tanpa pernah menyampaikan apa yang dia rasakan, anda hanya mengira-ngira bahwa dia suka. Dan setelah anda tahu dia akan menikah , anda sudah meyakini bahwa selama ini dia tidak suka kepada anda, dan bahkan dia hanya memberikan anda harapan palsu.
Tapi begitu hari pernikahannya kurang dari sebulan, anda dikejutkan dengan sebuah pengakuannya. Pengakuan yang mungkin saja menurut dia , dia hanya ingin menyelesaikan urusannya. Tapi tidak begitu mudahnya menurut anda, meski anda bilang di depannya berkali-kali “aku ikhlas“. Karena pengakuannya justru membuat anda lebih sakit, lebih terpuruk, lebih membuat anda menyalahkan diri anda sendiri.
Pengakuannya bahkan hanya kata-kata yang sederhana, hanya “Tapi jujur, aku pernah benar-benar menunggu kamu, sebelum akhirnya memilih calon istriku ini .. ” . Ketika anda mendengar itu, rasanya sepeti disambar petir,, CETARRR!! Seketika air mata saya turun, kemudian dengan saking tidak mau terlihat rapuh saya balas dengan kata “ berjalanlah ke depan, jangan lagi kau menoleh ke belakang”. Anda tahu? Saya benar-benar tidak ingin melempar kata-kata itu, benar-benar tidak ingin. Yang saya inginkan hanya mengatakan, “tak bisakah anda batalkan pernikahan itu ? tak bisakah anda memilih saya kemudian? “ . Tapi saya tak bisa melontarkan kata-kata itu, saya tak ingin terlihat bahwa saya begitu rapuh mendengar pengakuannya. Sakit , benar-benar sakit.
Apalagi ketika setalah kejadian itu, dia semakin mengumbar
apa saja persiapan pernikahannya. Rasanya ingin mencabik-cabik diri sendiri.
Dan lebih sakit lagi, dia seperti tidak punya rasa bersalah ketika mengumbar
itu.
Saya ingin bertanya, kenapa anda tidak memilih saya sebagai
pendamping hidup? Kenapa anda tidak memberikan saya kesempatan untuk berubah? Kenapa
anda tidak mau untuk menunggu sedikit lebih lama lagi? Kenapa dan kenapa? Banyak
sekali pertanyaan yang ingin saya sampaikan, tapi kemudian saya berpikir,
apalah arti saya mendapatkan jawabannya tapi kemudian saya lebih terpuruk
daripada ini?
Hanya karena anda tak lebih cantik, tak lebih pintar, tak lebih baik imannya, anda kehilangan orang yang anda sayang. Hanya karena anda tidak cepat mengambil keputusan untuk berubah, anda kehilangan orang yang anda sayang. Dan ya, hanya karena anda idealis dengan prinsip anda, anda kehilangan orang yang anda sayang. Lagi lagi karena dan karena.
yah, tapi saya bisa apa? Saya juga tidak bisa menjamin dia akan bahagia ketika memilih saya, saya juga tak bisa memastikan saya bisa menjadi istri yang baik untuk dia, bahkan saya tak bisa pastikan apakah saya dapat mengurus anak- anak kami dengan baik nantinya. Biarlah, ya biarlah dia dengan masa depannya. Dan biarlah saya mencari pula masa depan saya, mencari untuk membuat saya bahagia pula. Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan? Ya berarti ya tidak butuh dia, dan sebaliknya.
Hanya karena anda tak lebih cantik, tak lebih pintar, tak lebih baik imannya, anda kehilangan orang yang anda sayang. Hanya karena anda tidak cepat mengambil keputusan untuk berubah, anda kehilangan orang yang anda sayang. Dan ya, hanya karena anda idealis dengan prinsip anda, anda kehilangan orang yang anda sayang. Lagi lagi karena dan karena.
yah, tapi saya bisa apa? Saya juga tidak bisa menjamin dia akan bahagia ketika memilih saya, saya juga tak bisa memastikan saya bisa menjadi istri yang baik untuk dia, bahkan saya tak bisa pastikan apakah saya dapat mengurus anak- anak kami dengan baik nantinya. Biarlah, ya biarlah dia dengan masa depannya. Dan biarlah saya mencari pula masa depan saya, mencari untuk membuat saya bahagia pula. Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan? Ya berarti ya tidak butuh dia, dan sebaliknya.


0 komentar:
Posting Komentar